Kamis, 27 Oktober 2011

in6in pul4n6 k4ng3n bund4

Masih kuingat lagu-lagu dan cerita yang kaubisikkan di telingaku menjelang tidurku di malam kelam. Kita hanya berdua, ditemani bintang-bintang. Masih jelas suaramu terngiang di telingaku, mendarah daging. Kisah-kisah Jatayu, dongeng raja-raja zaman dahulu kala, atau cerita luhur nabi-nabi, semuanya masih terekam rapi di memori otakku. Sekian lama menjadi anakmu, rasanya aku sudah begitu menyatu denganmu. Bau tubuhmu, desah napasmu, marahmu, canda ceriamu, ibu..
Berapa banyak puisi yang pernah dibuat manusia berkisah tentangmu, berapa banyak lagu yang hanya diciptakan untukmu. Namun dalam hati aku bertanya, adakah pernah aku menyampaikan perasaan sayangku padamu? Perasaan terpendam yang hanya kuekspresikan lewat wajah yang selalu cemberut, perasaan sayang yang hanya kuekspresikan dengan bantahan pada setiap perintahmu? Itukah? Aku salah.

Kutahu aku sangat menyayangimu, tapi entah megapa, sulit kuungkapkan. Kini aku tersesat, tak tahu berada di mana. Lorong-lorong gelap di ujung jalan semakin menyusahkan. Aku ingin berada di sampingmu, seperti waktu kecil dulu. Aku ingin mendengarkan dongeng dan nyanyianmu, agar tidurku nyenyak. Aku rindu belaian kasihmu, seperti air dari perbukitan yang tak berhenti mengalir sampai ke lembah-lembah.
Ada rasa cemas menyergapku. Mungkinkah suatu saat nanti Tuhan mempertemukanku denganmu? Jika iya, apa yang harus kulakukan? Sujud di kakimu, mencium pipi dan tanganmu, atau meminta maaf?
Entahlah. Aku rindu dirimu, Ibu. Bertahun-tahun aku lari darimu, lari dari orang yang telah membesarkanku. Adakah kau di sana juga merindukanku? Menyebut namaku sebelum tidurmu? Hidup di negeri orang berhari-hari, berbulan-bulan, bergelimang harta benda dan kekuasaan, rupanya tak mampu mengubahku. Aku tetaplah anakmu, sampai kapanpun akan tetap menjadi anakmu.

Kini semuanya sirna. Harta, kedudukan, kekuasaan, semuanya pergi meninggalkanku. Aku hina, jatuh miskin, dan tak seorang pun mengingatku. Tanganku yang lemah menggapai-gapai ke langit, mencari sosokmu di sana. Bibirku gemetar menyebut namamu. Kini aku ingin tidur, Ibu, tidur yang panjang. Maukah kau mendongeng untukku, sekali lagi saja. Dongengkan kepadaku tentang kehidupan, tentang diriku sendiri. Ibu, aku kembali padamu. Ibu, aku ingin pulang…

0 komentar:

Posting Komentar